Pedampingan Klitih
Berita Jogja

Pelaku Klitih Butuh Pendampingan Selama Menjalani Hukuman

Hukuman berat bukannya salah satu jalan keluar untuk memberikan efek jera kepada pelaku klithih yang telah tertangkap. Pelaku yang masih berusia sangat mudah tentunya wajib mendapatakan pendampingan psikologis ketika didalam penjara agar pelaku tidak lagi melakukan tindakan kekerasan kembali.

C. Wijoyo Adinugroho, M. Psi yang merupakan Psikolog Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  pada hari Selasa (14/3/2017) menuturkan jika saat ini banyak hukuman yang sifatnya tidak mendidik. Menurut dia, pada kasus anak dan remaja meskipun tak mengharamkan kurungan penjara namun hendaknya diimbangi dengan pendampingan intensif. Adi juga menambahkan jika hukuman pada anak dan remaja haruslah menekankan pada pendamping karena mereka sedang mencarai jati diri dan membutuhkan media ekspresi yang konstruktif bagi diri dan lingkungan. Oleh karen itu hal sperti ini merupakan pekerjaan rumah untuk lembaga pemasyarakatan anak dan harus dilakukan.

Penjara tanpa pendampingan menurut Adi justru tidak memberi efek jera lantaran terkadang malah mempertemukan mereka dengan pelaku kejahatan lain yang dapat mempengaruhi cara berpikir mereka. Pelaku yang masih muda tentu sangat perlu pendampingan untuk bisa mengelola emosi apalagi untuk emosi negetif seperti amarah, yang selama ini belum disentuh oleh lembaga pemasyarakaran.

Adi juga menambahkan, jika melibatkan orangtua dalam proses hukum menjadi salah satu hal yang sangat penting karena akar permasalahan klithih ternyata berasal salah satunya dari keadaan rumah yang abai terhadap perkembangan anak.Jadi, sebelum meraka bebas dari hukum, harus dipastikan dulu apa mereka telah memilki  rasa berharga akan diri dengan tidak melakukan kekerasan tapi bisa menghargai dengan  mencari keunggulan lain yang dimiliki, seperti jika memang senang berkelahi bisa disalurkan ke olahraga bela diri (yudo, karate, tinju, pencak silat), seni (bisa band, mural, melukis, memahat), beri ketrampilan kerja juga baik supaya bisa menghasilkan uang untuk hidup.

Sebelumnya diberitakan Kapolda DIY Brigjen Polisi Ahmad Dofiri mengakui pihaknya tak akan memberlakukan diversi pada para pelaku klithih yang melakukan aksi kekerasan hingga menyebabkan kematian satu lagi korban. Hukuman berat pun disiapkan bagi pelaku yang ternyata masih berusia 17 tahun dan berstatus pelajar.

Baca Lengkapnya :

krjogja.com

Post Comment


3 + 4 =