bubur-sayur-lodeh_20170529_092130
Kuliner & Wisata

Nikmatnya Takjil Bubur Lodeh Masjid Sabiilurrosya’ad, Dusun Kauman, Yogyakarta

Tradisi umat Islam buka puasa di Masjid Sabiilurrosya’ad, Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul, Yogyakarta, ternyata cukup unik. Mereka selalu berbuka dengan bubur sayur lodeh sejak masjid berdiri yakni sekitar tahun 1570 Masehi.

Hariyadi selaku Sekretaris Takmir Sabiilurrosya’ad menyampaikan, tradisi takjilan dengan bubur sayur lodeh sudah dilakukan oleh Panembahan Bodho yang bernama asli Adipati Trenggono sejak abad ke 16 Atau sekitar tahun 1570 Masehi.

Panembahan Bodho adalah murid dari Sunan Kalijaga yang menolak jabatan Adipati Terong di Sidorejo, dan lebih memilih menjadi ulama dan mensyiarkan Islam di Desa Wijirejo.

Bubur diketahui merupakan makanan asli Gujarat, India. Bubur ini kemudian dicampur sayur lodeh yang merupakan makanan khas orang Jawa.

Cara penyajiannya, sayur disajikan dengan tempe dan tahu. Namun di hari Jumat, disajikan dengan daging ayam.

Haryadi mengatakan, takjil bubur sayur lodeh ini memiliki makna. Pertama, berarti bibirrin atau kebagusan, yakni ajaran Islam itu harus diajarkan dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan.

Kedua, beber, artinya sebelum disajikan dijelaskan mengenai ajaran Islam. “Sebelum takjilan akan dibeberkan ajaran Islam,” jelasnya.

Ketiga, beber yang memiliki filososi, ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat tanpa memandang status sosial dari mana dia asalnya. Sementara untuk bubur memiliki maksud bahwa syiar Islam harus disampaikan dengan cara halus, dengan lemah lembut, bukan dengan pedang atau kekerasan.

Filosofi yang baik ini dipertahankan sampai sekarang oleh masyarakat di Masjid Sabiilurrosya’ad.

Baca Lengkapnya :

tribunnews.com

Post Comment


9 + 5 =