Kedung-Pedut-370x246
Kuliner & Wisata

Jadi Lokasi Padusan, Kedung Pedut Siapkan Fasilitas

Pengelola wisata alam Kedung Pedut telah melakukan sejumlah persiapan untuk menghadapi tradisi padusan yang diperkirakan dilakukan pada Jumat (26/5/2017) hari ini. Keamanan dan kenyamanan pengunjung menjadi prioritas para pengelola.

Sarija, salah satu pengelola Kedung Pedut mengatakan bahwa persiapan sudah dilakukan dalam sepekan belakangan. Sejak dua tahun lalu, obyek wisata yang terletak di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo tersebut menjadi salah satu lokasi alternatif  tradisi padusan menyambut ramadan.

Diperkirakan lebih dari 2.000 orang berkunjung dalam sehari. Mereka tidak hanya berasal dari Kulonprogo tetapi juga berbagai daerah lain. “Belajar dari pengalaman dua tahun kemarin, persiapan baiknya jauh-jauh hari,” jelas Sarija, Kamis (25/5/2017).

Sarija menambahkan, pengelola menaruh perhatian khusus terhadap kondisi kolam-kolam yang akan dipakai padusan oleh pengunjung. Semuanya sudah dikuras. Selain mengecek kedalaman kolam, mereka juga membersihkan benda-benda di dasar kolam yang bisa membahayakan pengunjung, seperti duri dan batu.

Nantinya ada tim khusus yang bertugas mengawasi keselamatan pengunjung di setiap kolam. “Peralatan maupun keperluan penyelematan lainnya juga sudah disiapkan semua,” lanjutnya.

Kedung Pedut juga berupaya mengantisipasi potensi kemacetan di jalur wisata akibat lonjakan pengunjung. Selain menyiagakan petugas di sejumlah titik rawan, beberapa marka pendukung disiapkan guna memudahkan sekaligus memperingatkan pengunjung. Dia berharap pengunjung selalu berhati-hati saat berkendara, terlebih karena jalan menuju Kedung Pedut relatif sempit dan banyak tanjakan.

Kedung Pedut terletak tidak jauh dari kawasan wisata Goa Kiskendo. Terdapat kolam-kolam eksotis berisi air berwarna hijau tosca yang terbentuk secara alami di sana. Kedalaman kolam mencapai 1-4 meter.

Obyek wisata yang dibuka sejak 2015 lalu itu juga memiliki air terjun setinggi 30 meter. Namun, posisi air terjun yang dikelilingi tebing membuatnya tidak terlihat karena tertutup kabut. “Itulah mengapa disebut pedut atau kabut,” ucap Sarija.

Baca Lengkapnya :

harianjogja.com

Post Comment


5 + 7 =