Ngino%202
Kuliner & Wisata

Empat Kampung di Sleman dengan Pantangan Unik Bagi Warganya

Kehidupan pedesaan masih kental terasa di wilayah Sleman. Kerukunan masyarakatnya menjadi ciri khas tersendiri yang hingga saat ini selalu dipertahankan, demikian pula dengan kepercayaan yang berlaku secara turun-temurun. Di kabupaten paling utara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini ada beberapa dusun atau kampung yang masih memegang teguh kepercayaan leluhur. Kepercayaan itu berupa pantangan untuk tak melakukan suatu hal yang dianggap terlarang oleh masyarakat sekitar. Uniknya lagi pantangan tersebut sesuai dengan kampung mereka masing-masing.

Berikut lima kampung unik di Sleman dengan beberapa pantangan bagi warganya.

Dusun Kasuran
Kasuran merupakan salah satu dusun yang terletak di barat daya Kabupaten Sleman. Kampung seluas kurang lebih 17 hektar ini masuk ke dalam wilayah Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan.

Tak ada yang berbeda dengan kampung lainnya di Sleman, hanya saja warga Dusun Kasuran memiliki pantangan unik yakni tak akan pernah tidur dengan menggunakan alas kasur. Kebiasaan itu pula yang kemudian menjadikan kampung ini dinamai Dusun Kasuran.

Kebiasaan tidur tanpa kasur ini berkaitan dengan cerita perjalanan Sunan Kalijaga. Ketika itu penyebar ajaran Islam di tanah Jawa yang gemar berkelana tersebut melakukan perjalanan dan sampailah Sunan Kalijaga di sebuah tempat tak bernama kala itu.

Sunan Kalijaga kemudian bertemu dengan seorang bernama Kyai Kasur. Tetua ini kemudian menjamu dan mempersilakan Sunan Kalijaga untuk beristirahat dan disediakanlah sebuah kasur.

Setelah melepas lelah sejenak, tiba saatnya pangilanuntuk shalat. Sunan Kalijaga bergegas mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban ibadah, namun ia tak melihat seorang pun masyarakat sekitar yang menunaikannya selain Kyai Kasur.

Usai shalat dan saat akan melanjutkan perjalanannya Sunan Kalijaga kemudian berpesan kepada Kyai Kasur untuk memperingatkan warganya agar tak bermalas-malasan tidur di atas kasur dan meninggalkan shalat sebelum kesaktian mereka melebihi dirinya. Sejak itulah warga sekitar tak berani tidur beralaskan kasur dan jika pantangan itu dilanggar maka diyakini akan berakibat buruk.

Dusun Kregolan
Kampung Kregolan berada di wilayah Kalurahan Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman. Nama Kregolan diambil dari kata ‘Regol’ yang dalam bahasa Jawa berarti pagar. Nama Kregolan juga diambil dari nama pendiri kampung tersebut yang bernama Mbah Siregol.

Warga di kampung ini memiliki pantangan unik, yakni mendirikan rumah tanpa memiliki regol alias pagar. Balum diketahui secara pasti alasan mengapa warga enggan membangun pagar rumah mereka, namun konon hal tersebut dikarenakan mereka tak ingin kualat karena membangun regol dalam hal ini akan menyamai nama Mbah Siregol.

Selain itu warga berkeyakinan, adanya pagar membuat kebersamaan antar masyarakat menjadi berkurang. Pagar dianggap sebagai pemisah hubungan antar warga, dengan bangunan tanpa sekat pembatas maka antar sesama tetangga dapat bebas saling berkunjung.

Dusun Ngino
Kampung unik ini bernama Dusun Ngino yang masuk wilayah di Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan. Terletak di barat daya Kabupaten Sleman, Dusun Ngino memiliki larangan tak tertulis yang diyakini warganya yakni pantang menanam tanaman sirih serta tak untuk membuat sumur.

Ngino sendiri diambil dari kata dasar ‘Nginang’ yang dalam bahasa Jawa berarti kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan inilah yang dahulu sering dilakukan Mbah Bregas, sosok disegani warga saat itu.

Asal muasal pantangan membuat sumur dan menanam sirih berawal dari cerita pertemuannya antara Mbah Bregas dengan Sunan Kalijaga di kampung tersebut. Saat itu kedua tokoh ini asik berbincang soal agama dengan hingga larut malam bahkan sampai dini hari.

Ketika tengah seru-serunya berbagi ilmu, tiba-tiba ada seorang warga yang tengah mengambil air dari sumur untuk menyiram tanaman di ladang. Sunan Kalijaga mengira suara itu merupakan aktivitas warga yang tengah mengambil air wudhu untuk menjalankan Shalat Subuh. Penyebar agama Islam di tanah Jawa ini segera mengakhiri perbincangannya dengan Mbah Bergas dan bergegas mengambil air wudhu.

Dengan rasa malu Mbah Bregas mengatakan kepada Sunan Kalijaga jika saat itu belum saatnya masuk waktu Shalat Subuh dan suara tadi merupakan kegiatan warga yang tengah menimba air untuk menyiram tanaman. Mbah Bregas yang merasa bersalah memperingatkan warga tersebut dan kemudian melarang masyarakat sekitar untuk memiliki sumur di rumah mereka.

Sementara kepercayaan tak mau menanam tanaman sirih lantaran warga menghormati kebiasaan Mbah Bregas yang gemar ‘nginang’. Masyarakat sekitar tak berani melanggar pantangan itu hingga saat ini.

Dusun Beteng
Dusun Beteng berada di Kelurahan Margoagung, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman. Warga di sini memiliki pantangan membangun rumah berdinding tembok. Warga lebih memilih membangun rumah rumah mereka dengan dinding kayu maupun bambu.

Pantangan itu dilakukan warga bukan kerena tanpa sebab, semua dilakukan berkaitan dengan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro saat mengusir penjajah Belanda dari tanah Mataram. Dahulu kawasan Margoagung merupakan basis pertahanan awal pasukan Diponegoro sebelum kompeni masuk lebih jauh ke pusat pemerintahan saat itu.

Di kawasan ini Pangeran Diponegoro membangun benteng pertahanan. Benteng pertahanan yang dibuat bukan sembarangan, melainkan benteng gaib. Para pejuang dan warga sekitar tak akan bisa melihat adanya bangguna besar di sini, namun jika pasukan Balanda mendekati kawasan Margoagung seolah melihat benteng besar dengan ribuan pasukannya.

Kompeni yang nekat mendekat benteng tersebut akan tewas. Jangankan manusia, kuda milik kompeni yang melewatinya pun juga akan mati.

Hal itulah yang kemudian mendasari warga enggan membangun rumah mereka terbuat dari dinding. Warga meyakini, dengan membangun rumah bertembok maka akan terjadi marabahaya. Tak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi warga sekitar.

Bagaimana, apa Anda tertarik untuk mengunjungi dusun-dusun tersebut?

Baca Lengkapnya :

krjogja.comm

Post Comment


2 + 1 =